Kamis, 03 Desember 2009

Blog Setajam Silet

Blog setajam Silet



Siang udara kelihatan begitu menyengat di luar…
Kontras dengan ruangan yang terasa sejuk dengan semilir udara dari AC…
Kopi panas setidaknya bisa jadi teman pemacu semangat… untuk saat ini…


Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu… sobat semua.
Alhamdulillah, akhirnya ada juga tulisan yang nongol di blog yang kempis melulu ini. Mungkin blog-blog semacam milik saya ini memang harus Selamatan dulu, orang jawa bilang Bancakan. Kata orang-orang, biar awet, langgeng, dan berbarakah… Secara naluri bentuk-bentuk syukur kepada Tuhan memang diperlukan atas semua yang telah kita dapat. Menulis blog atau semacamnya bagi sebagian orang seperti saya merupakan rutinitas yang sangat tidak biasa. Jadi dengan munculnya satu tulisan saja itu dalam bayangan saya layak untuk dirayakan. Wajar kalau diadakan selamatan kan?

Sluurrpppss, kopi yang menyegarkan…

Di ruangan kerja saya yang berukuran sekitar 14 m x 6 m, orang-orang terlihat suntuk. Mungkin bĂȘte kali ya? Yups, televisi aja gak ada yang nonton, padahal nyala dengan suara yang sriwing sriwing, alias nyampe ke tempat duduk saya yang notabene berada paling pojok dari ruangan. Tiba-tiba saya berhalusinasi kalau-kalau tipi itu seperti bicara sendiri, Ibu-ibu bapak-bapak siapa yang mau bantu tolong aku pelototin aku…tolong gantilah channelku…, hihihi, mungkin gitu kali ya jerit hati tipi itu. Negara udah bayar listrik mahal-mahal, tipi tidak ditonton. Sungguh sayang. Memang orang-orang suka menyia-nyiakan sesuatu yang dia tidak merasa berkorban untuknya, termasuk saya kali ye, he he he…

Berbicara tentang pekerjaan, sebuah harapan, memerlukan variasi proses yang panjang yang mungkin kawan-kawan akan mengalami situasi di mana kehidupan terasa stagnan. Terasa begitu membosankan dan berat! Namun itulah, situasi seperti harus selalu kita manage agar bukan kita nantinya yang di-manage oleh situasi tersebut. Seperti kisah saya berikut ini, tentang sebuah kebosanan saya.

Ketika saya sedang sibuk-sibuknya mengkompilasi laporan-laporan yang berasal dari unit di bawah instansi kerja saya, sebuah suara merdu namun agak agak bengis terdengar…

“….Setajam Silet ..!!!”

Itulah kata-kata yang tidaklah asing di telinga manusia pencinta infotainment, termasuk ibu-ibu di ruangan saya ini. Setidaknya beberapa bapak-bapak juga gemar. Host acara Silet yang ditayangkan di salah satu channel lokal begitu terlihat bersemangat dalam menyajikan acara yang selalu up to date (menurut siapa nih?). Wacana maupun topik-topik yang disajikan pun always segar. Nyam nyam. Coba yang segar itu jeruk… pasti saya makan deh.



Saya sebenarnya tidak suka acara infotainment karena menurut saya acara-acara ini hanya semacam ‘angin lewat’, berasa tapi ya cuma silakan lewat aja… Isi buat alam wawasan amatlah kosong. Namun, untuk nggosipin kejelekan orang emang buat sebagian orang adalah suatu kebahagiaan, apalagi situasi yang buruk itu sedang dialami oleh figur-figur lintas alam, antara alam biasa dan alam keartisan.


Rasa-rasa panas, penasaran, kebencian dan kegembiraan mampu digodokkan acara-acara infontainment ke dalam hati para penontonnya. Emosi wanita lebih banyak terlibat. Ini emang jualan tipi. Dan inilah yang dicari para pembenci kebosanan. Jadi mungkin para lelaki yang lagi suntuk dengan keseriusannya terkadang juga menumpahkan kebosanannya dengan mencari-cari acara gosip. Tentu saja saya punya alternatif lain buat mengatasi kebosanan, sori la yau.

Beberapa acara infontainment setahu saya memiliki muatan topik yang bermutu…. Gak semuanya kayak kacang. Contohnya beberapa suguhan Silet. Dulunya Silet adalah sebuah acara yang mengupas detil sesuatu hal sebagaimana slogannya. Dan seiring berjalannya waktu beberapa acara infontainment semacam ini mengalami penyegaran.

Saking segarnya, kadang saya berfikir acara yang disajikan Silet lama-lama jadi nggak wajar. Lho kok… ? Tapi wajah-wajah di ruangan ini tetap mengarahkan diri untuk melihat… karena topik untuk hari ini berkisah tentang fenomena penampakan wujud yang diakui perekamnya adalah sejenis tuyul.

Wow, pastinya orang-orang pada penasaran dong.. bertanya-tanya apa bener sosok yang nongol itu adalah tuyul. Terlepas dari percaya nggak percaya, bo’ongan maupun bikinan, walaupun acara yang disajikan mengupas masalah tuyul, kenyatannya mampu menyedot perhatian khayalak kantoran. (Mungkin besok-besok saya mau posting cerita hantu penghuni ruangan saya yang sebentar lagi akan saya tinggalkan karena pindah dari gedung lama ini ke gedung baru ntar).

Namun saya rasa kualitas yang disuguhkan acara semacam ini kurang begitu memuaskan dalam memberikan ketenangan jiwa. Merogoh keyakinan di masyarakat yang masih terkesan religius dan terkadang mistik memang menghibur, tapi buat sebagian orang seperti saya, sajian itu kurang begitu pas untuk dibedah –setajam silettt-. Masyarakat suka tahayul, bolehlah. Yang skeptis pun boleh juga mengkritik. Namun, hal-hal yang berbau mistik semacam video penampakan tuyul seperti siang ini adalah bentuk kurangnya bahan yang akan disajikan produser acara ini… jadi pengaruh buat kita selain mematikan rasa penasaran itu hampir tidak ada.

Selama 2 hari saya mengikuti (boleh dong sekali-kali nonton infotainment…piss), bahasan yang disuguhkan seperti tidak ada ‘nyawa’. Yesterday, tentang potong rambutnya Ahmad Dhani, pentolan band Dewa 19. Urusan kita apa coba ngurusin kepala orang? Hal-hal yang berbau tahayul sekarang pun bisa didapatkan begitu mudah di internet. Cuma tanya paman Google… kalo ga tahu…

So, saya tidak mengatakan bahwa infotainment itu sebuah acara yang ‘tidak bunyi’, namun mari kita lihat dari segi keuntungan buat kita…apakah benar-benar bermanfaat buat kita, apakah merugikan orang lain atau tidak, apakah yang disuguhkan bersumber dari sumber-sumber yang bisa dipertanggung jawabkan? Kalau sobat tidak menemukan jawabannya, tahu deh, apalagi saya, he….

Apaan ya ?

Nah daripada disia-siakan infotainment, mungkin sobat-sobat yang sudah terbiasa nulis bisa merealisasikannya dengan main di internet. Ngapain aja? Banyak yang bisa diambil dari internet atau jejaring lainnya. Blog misalnya. Tempat di mana saya juga mengikuti guru blogging saya, Erikson Wijaya (sori son, pamer nama ente nih, hehehe… BTW, emangnya kapan ya ngangkat kodel jadi murid?! hihi ). Sobat yang sudah terbiasa nge-blog, jangan sampai hal itu surut. Kalo perlu selamatan biar tetep flow and fly.

Dengan blogging, mungkin kita semua akan merasakan jiwa yang sebenarnya, karena biasanya sebuah blog adalah interpretasi seseorang, insipirasi yang harus digambarkan, keinginan yang harus dibangkitkan, tantangan yang harus ditaklukkan. Baik dalam berbagai aspek, baik cara menuhinnya dengan mencomot tulisan orang lain atau bagaimana pun, sobat, yang jelas biasanya tulisan dirinya maupun orang lain itu pasti mencerminkan ekspektasi dan jati diri pemilik blog. (wah, promosi ngeblog nih?! Pengumuman… encang, encing, nyak, babe, kalo itu untuk kebaikan, pa sih yang tidak layak dipromosi-in? Asal itu berguna, ayo mah… Iya ga?). yang penting juga, kebosanan ilang tidak dengan sia-sia. Apalagi blog kita isinya membantu orang lain. Hebat kuadrat ntuh…

So, let’s blogging with care…



(Tulisan ini adalah motivasi individu agar terbiasa dalam menulis)
----------------------------------------------------
Gambar dari:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUpQs8GS8i7mEehUerioW_sfljxOqAYDIf1gJ7GHe6RjUlwbDeGoRCaQrA6bBnZ5dya5CAufkudZofW79TOtOWjrfQMwAozZiFpaM4bSWd5n_lnPdj-ageuBXR8fwhwAkl2qkK8WUUqr8/s1600/video-tuyul.jpg

Jumat, 16 Oktober 2009

Baru ngisi

Puas...puass...

Akhirnya mau nulis juga... setelah dipaksa-paksa orang sebelah (siapa sihh??) sekian lama. Menulis adalah sesuatu yang sulit bagi sebagian orang, termasuk saya. Ini aja dalam rangka coba-coba.

Saya sedang belajar menggunakan sesuatu yang mungkin terasa aneh buat jati diri saya. Sebagai seorang yang skeptis, introvert, cool..halah, kebiasaan menulis hampir bukan menjadi menu lalapan harian saya. Sudah lumrah kan anak-anak benci pelajaran mengarang waktu sekolah. Iya tahu, nggak semua sih kayak gitu.. cuman emang mengarang atau lebih tepatnya menulis membutuhkan energi yang sangat besar menyerap seluruh potensi yang harus dikeluarkan di badan, he he he.

Intinya menulis berseberangan dengan kenormalan saya yang saklek. Mengucap Bla Bla Bla... huuuhhh, susahnya minta ampuun. Terkadang saya berpikir bahwa mungkin saya terkena suatu sindrom yang melarang saya untuk menulis. Saya sendiri juga bingung. Saya kira saya terkena sindrom Ubamo Gate. Apalagi nih...?? Bukan nama orang tapi istilah yang saya namai sendiri, Unsynchronizable Brain And Mouth Gate. Sindrom yang menyebabkan apa yang akan saya tulis dari otak jadi tidak sinkron karena ketika respon dari otak yang akan menuju ke syaraf pengatur sensor mulut kagak nyampe.

Berkata-kata aja susah apalagi menuangkan perkataan ke dalam bentuk tulisan. Sebel dahh..

Padahal menulis menurut sebagian orang menyenangkan. Apanya?!

Langsung saja keinginan untuk mulai menulis melintas baru-baru ini, selain penasaran, emang kalo sesuatu di otak ga ditulis malah bisa bikin kepala tambah puyeng. Terlalu banyak yang masuk. Dengan menulis, yang masuk tadi bisa diarahkan ke kamarnya masing-masing di otak. Biar ga ngumpul di lapangan otak semua. Ntar kepala bisa botak kalo diinja-injak mulu. He... saya kira saya juga harus ngilangin sindrom ini. Sekarang juga !!

Satu sih yang saya dapat sebagai bekal untuk menulis... "jangan asal sembarang nulis !" Oke oke, kita mulai saja buat tulis-menulis. Ayo anak-anak, jangan bicara saja, ayo mulai nulis... !!!